Selasa, 08 Agustus 2017

Review Kosong: Mystic Messenger


Mystic Messenger
Developer: Cheritz
Free for some parts
Available on Android and iOS

Siapa yang gak mengenal game fenomenal Mystic Messenger, terlebih para otaku otome atau orang-orang yang mengaku dirinya adalah otaku. Mystic Messenger adalah sebuah game dating simulasi yang dikembangkan oleh Cheritz sejak 2016 lalu dan seketika langsung booming. Kenapa, karena game dating ini menampilkan format yang berbeda dari game dating lainnya. Format yang ditampilkan adalah layaknya chatting pada aplikasi messenger dilengkapi dengan panggilan telepon!

Hingga saat ini Mystic Messenger menyajikan lima rute yang bisa dipilih, yaitu Yoosung, Jaehee, Zen, Seven, dan Jumin. Rencananya, pada bulan Agustus ini mereka akan mengeluarkan rute baru, yaitu V.

Mystic Messenger sendiri bercerita tentang MC (Main Character, yaitu KAMU) yang dihubungi seseorang bernama Unknown dan ia minta tolong pada kamu untuk mengantarkan handphone yang ia temukan ke sebuah alamat. Kalau kamu setuju mengantarkannya, maka kamu akan memasuki sebuah apartemen yang kemudian otomatis mengkoneksikan handphone yang kamu temukan tadi dengan sebuah aplikasi chatting bernama RFA --Rika Foundation Association. Kamu pun masuk ke grup chatting tersebut dan mulai berkenalan dengan para member RFA yang namanya sudah saya sebutkan tadi di atas. Tugas kamu selanjutnya mengadakan sebuah pesta charity yang biasanya diadakan oleh member RFA bernama Rika yang diberitakan sudah meninggal.

Menariknya lagi, berbeda dengan game dating lainnya yang membuat kamu memilih rute di awal game, di Mystic Messenger kamu sendiri yang harus berjuang mendapatkan hati tokoh yang kamu sukai agar rute mereka terbuka. Btw, ada dua pilihan cerita yang bisa dipilih sebelum prolog, yaitu Casual story yang berisi rute Yoosung, Jaehee, dan Zen, serta Deep story yang berisi Seven dan Jumin. Untuk Casual story itu free, sedangkan untuk Deep story diharuskan membayar 80Hourglass.

Game ini juga menyajikan banyak ending di setiap rutenya, sampai saat ini sih saya selalu dapat Good Ending terus hehe.

Untuk grafik, oke banget. CGnya kerenlah. Sedikit ada perubahan tampilan sih pada game ini, yang awalnya berwarna kuning sekarang berubah menjadi warna tosca.

Dari alur ceritanya, keren. Jangan berharap ada cerita atau karakter menyek-menyek yang suka ada di game dating pada umumnya, karena gak akan ada hal seperti itu di Mystic Messenger. Kalau saya perhatikan (ciyelah), malahan alur cerita Mystic Messenger sedikit kelam. Kenapa, (SPOILER ALERT) karena Rika sebenarnya belum meninggal. Hubungan Rika dan V sejak awal sudah tidak sehat, mereka memandang satu sama lain sebagai sosok yang sempurna dan ketika ada yang tidak sesuai dengan kesempurnaan mereka, mereka jadi kehilangan keseimbangannya hingga akhirnya saling melukai. Btw, ini teori saya aja sih.

Karakter-karakternya, hmm, suka. Kelima tokoh Mystic Messenger digambarkan dengan cukup unik. Seperti Yoosung yang kecanduan main game online LOLOL, Zen yang narsis banget, Jaehee yang fansnya Zen dan sekretarisnya Jumin, lalu Jumin yang lebih tertarik pada kucing peliharaannya ketimbang wanita, serta Seven si hacker kocak namun serba rahasia. Kadang saya suka merasa kayaknya ada yang salah dengan tokoh-tokoh ini tapi ah sudahlah, saya tidak mau berkonspirasi dengan teori-teori omongkosong saya lol.

BGMnya, oke. Suara karakternya juga oke. Saya sih paling suka suaranya Zen sama Seven, soalnya lucu aja suara mereka. Apalagi kalau Zen udah mulai gak jelas, suaranya gemes banget haha.

Minusnya dari game ini adalah money oriented karena semuanya serba mahal. Saya mengerti kreator game ini butuh sesuatu untuk memenuhi kebutuhan mereka, tapi tidak semahal ini juga. Contohnya, saat kita menyimpan game tersebut pada slot yang disediakan dan ingin memainkannya lagi dari slot tersebut, kita diharuskan membayar 5Hourglass. Sedangkan untuk mendapatkan Hourglass adalah dengan membelinya. Lalu, untuk membuka Deep route juga membayar 80Hourglass. Yang baru-baru ini mengagetkan saya adalah, saat After Ending kita diharuskan membayar 20Hourglass untuk membukanya, dan kemudian Secret Ending yang terdiri dari 8 Episode, juga harus membayar 10Hourglass jika ingin dibuka setiap episodenya. I'm not that rich.

Yang bikin saya potek kuadrat adalah official merchandisenya super mahal T-T Padahal saya minat beli tapi harganya bikin saya nangis apalagi belum termasuk ongkir kan T-T Sekarang sih tinggal tunggu keajaiban ajalah saya bisa beli lol

Rating: 4.8/5
Yoosung, Zen, Seven, Jumin, Jaehee

-------------------------------------------------------------------------------
UPDATE!! (17/09/17)
Rute V udah rilis tanggal 9 September kemarin, bertepatan dengan hari ulangtahunnya. Dan untuk mendapatkan rute V harus membayar 300HG (nangis dayak T-T). Rutenya sama aja sih, ada 11 hari dan punya 7 ending berbeda. Tapi menurut saya kemahalan. (Imma poor player, you know T-T).
penampakan MM yang baru
source: cheritz.tumblr



----------------------------------------------------
UPDATE!!! (05/17)
Beberapa saat lalu Cheritz juga meluncurkan rute baru, semacam alternate universe Mystic Messenger yang melibatkan seorang pria bernama Ray. Tenang, Ray adalah tokoh yang menggunakan visual dari Saeran. Saya belum main rute ini sih, tapi kata teman yang main, rutenya seru. Tapi ya hati saya masih di Jumin lol.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Review Kosong: Vampire Academy


Vampire Academy
Sutradara: Mark Waters
Pemain: Zoe Dutch, Lucy Fry, Danila Kozlovsky
Genre: Paranormal, Romance
Berdasarkan novel berjudul sama karangan Richelle Mead

Banyak yang belum mengenal Vampire Academy atau sudah mengenalnya tapi terlambat seperti saya, rasanya sangat sayang hal itu terjadi. If only I know them sooner Y-Y

Saya tau film tersebut tanpa kesengajaan. Waktu itu saya sedang minta film pada seorang teman dan ia memberikan film Vampire Academy. Ketika saya tanya gimana filmnya, ia bilang bagus. Akhirnya saya langsung menonton saat ada kesempatan dan oke, saya jatuh cinta.

Bercerita tentang Rose Hathaway, dhampir (setengah vampir, setengah manusia) yang menjaga Lisa Dragomir, moroi (vampir darah murni). Mereka kabur dari perguruan St Vladimir dan akhirnya berhasil ditemukan oleh Dmitri Belikov, dhampir juga, yang membawa mereka kembali ke sekolah tersebut. Rose dan Lisa pun harus kembali menikmati masa sekolah mereka, namun Lisa mendapat teror. Mereka pun berusaha menemukan siapa pelaku teror tersebut.

Overall, saya suka banget. Meskipun beberapa scene terasa janggal, tapi saya tetap suka. Seperti contohnya saat si Mia gak jelas ngebully Lisa. Kurang penjelasan siapa Mia dan kenapa dia benci banget sama Lisa. Otp banget Dmitri sama Rose meskipun akting Dmitri kalau boleh saya bilang, kaku banget. Apa karena sifatnya Dmitri emang begitu? Daaan...akting Zoe Dutch sebagai Rose gak tau kenapa mengingatkan saya dengan aktingnya Ellen Peige di Juno. Penggambaran karakternya mirip banget hehew. Tapi pokoknya saya tetap suka.

Kemudian ternyata, Vampire Academy adaptasi dari novel juga berjudul sama. Karena akhir filmnya menggantung dan entahlah, akan ada lanjutannya atau tidak, saya pun mencari novelnya yang terdiri dari lima buku.

Ceritanya gak jauh berbeda. Masih tentang Rose dan Lisa yang kabur dari sekolah dan ditemukan oleh Dmitri. Tapi kejanggalan yang saya sebutkan di atas, semuanya terungkap di novel. Yah, pokoknya novelnya lebih complex dan membuat saya ketagihan membacanya hingga akhir sampai ke spin-offnya juga. Haha. Itu novel series pertama bahasa Inggris yang saya baca hingga akhir ke spin-offnya.

Dan yang disayangkan, gak akan ada film keduanya. Padahal semua penasaran dengan Adrian. Saya juga baru tau, ternyata para fans VA pernah membuat penggalangan dana demi terwujudnya film kedua (film pertama dianggap jelek dan pemasukkannya kurang bagus, sehingga sangat dipertimbangkan untuk film keduanya). Tapi sayangnya, dana yang terkumpul kurang jadi film kedua batal. Huhuhu.

Memang film Vampire Academy kurang bagus, tapi at least mereka tidak benar-benar merombak ceritanya dan masih tetap satu jalur dengan novelnya (kecuali scene akhir, saat menunjukkan strigoi--vampir jahat yang suka minum darah hingga korbannya mati, berkumpul di dekat St Vladimir, well, itu terjadi di buku ketiga *spoiler*).

Rating film: 3.1/5
Rating novel: 4.2/5

Selasa, 01 Agustus 2017

Review Kosong: Confessions of Shopaholic

Confessions of Shopaholic
Sutradara: P.J. Hogan
Pemain: Isla Fisher, Hugh Dancy
Genre: Romance, Comedy
Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Sophie Kinsella

Saya tertarik menonton filmnya karena teman kuliah sangat menyukai karakter Rebecca Bloomwood yang diperankan oleh Isla Fisher. Butuh waktu sekitar sebulan kemudian untuk mengumpulkan niat menonton film tersebut. Dan saya akui, saya cukup menyukainya.

Ceritanya tentang Rebecca Bloomwood, seorang reporter majalah perkebunan yang gila belanja hingga tagihan kartu kreditnya melebihi gaji yang ia peroleh. Suatu hari, perusahaan tempatnya kerja gulung tikar dan kebetulan, ia diterima bekerja di koran finansial Successful Savings. Tulisannya yang mampu menerjemahkan bahasa finansial ke bahasa yang lebih mudah dimengerti orang banyak, membuatnya dikenal sebagai Gadis dengan selendang hijau, yang waktu ia kenakan saat interview dengan Luke Brandon, redaktur Successful Savings. Namun, ia masih memiliki masalah dengan hutang kartu kreditnya.

Karakter Rebecca Bloomwood benar-benar unik, dia termasuk orang yang impulsif. Agar CV-nya terlihat bagus, ia menulis kalau ia lancar berbahasa Finlandia. Padahal ia sama sekali gak tau, alasannya "Siapa orang yang ngomong bahasa Finlandia?" lol (jangan ditiru ya).

Dan lagi, ternyata Confessions of Shopaholic ada novelnya!! Dan seperti film adaptation based on novel lainnya, film dan novelnya beda banget.

Di novel, tentang Rebecca Bloomwood, reporter majalah finansial Successful Savings yang gila belanja. Semua bermula ketika ia menerima tagihan kartu kreditnya, berniat membayarnya, tapi gak pernah dibayar malah terus-terusan belanja. Ia tertarik dengan Luke Brandon, PR Brandon Communications yang sering memberikan sinyal yang "salah" padanya. Dan masalah hutang kian membelit.

Topiknya memang masih sama, seputar Rebecca Bloomwood si gila belanja dan tagihan kartu kreditnya. Namun, perbedaan mencolok dari film dan novelnya sangat terasa kuat hingga saya tidak merasa heran kalau filmnya mendapat rating yang kurang bagus. Ketimbang novelnya yang saya rasa (sepertinya) lebih original, filmnya malah terasa seperti film The Devil Wears Prada versi gila belanja.

Kenapa, karena di film Rebecca ingin bekerja di majalah fashion yang satu grup dengan Successful Savings sehingga ia bisa dekat dengan brand baju papan atas. Sementara di novel, Rebecca ingin pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi sehingga ia bisa membayar atau tidak mengkhawatirkan tagihan-tagihannya.

Walau saya akui, Isla Fisher dan Hugh Dancy memainkan dengan menggemaskan perannya di film sebagai Rebecca dan Luke, tapi tetap saja saya merasa kecewa bahwa filmnya sangat jauh berbeda dengan yang ada di novel. Bagian apa yang beda, semuanya kecuali nama karakter, pekerjaan Rebecca, gila belanjanya Rebecca, dan tagihan kartu kredit.

Kalau boleh saya bilang untuk film adaptasi dari novel, ini sangat buruk meskipun filmnya sendiri lumayan bagus. Untuk novelnya, saya sangat menyukainya. Penggunaan sudut pandang orang pertama yaitu Rebecca sangat bagus dan menjiwai seakan saya adalah Rebecca lol.

Rating film: 3.2/5
Rating novel: 4/5

Jumat, 07 Juli 2017

Tulisan Kosong: 15 Minutes

Cerita ini hanya fiksi. Sebelumnya sudah saya post di wattpad, dan lagi ini merupakan re-make cerpen saya yang berjudul "45 minutes" yang kebetulan pernah saya post di Facebook pribadi saya. Hehe

Sebenarnya aku dan pria itu bukan teman sungguhan. Kami hanya berteman di media sosial bernama Facebook. Waktu itu aku melihat foto profilenya (yang tampan) dan memutuskan untuk mengirim permintaan pertemanan tanpa berpikir dua kali. Berharap mungkin ia akan mengirimiku pesan dan kemudian kita akan berbincang dan berjodoh (haha). Namun ternyata saat ia sudah menerima permintaan pertemananku dan aku stalk akunnya, ia sudah memiliki pacar (T-T). Seorang gadis berkulit putih bersih yang pokoknya jauh lebih cantik dariku. Semenjak itu, niat untuk mengiriminya pesan menghilang begitu saja.

Waktu semakin berlalu hingga aku melupakan akun Facebookku karena sibuknya urusan kuliah dan menariknya akun media sosial lain. Namun herannya hasratku ingin membuka akun itu kembali mencuat malam itu. Aku pun segera login dan melihat pria itu online. Aku tertawa dalam hati. Aku dulu sempat tertarik pada pria itu dan akhirnya setelah sekian lama berteman (di Facebook) tidak pernah mengatakan apapun padanya. Dan entah kenapa, mungkin karena tidak memiliki perasaan lagi, malam itu aku berniat untuk mengomentari status Facebooknya.

Dia: My life is totally over.

Tulisnya. Sepertinya ia sedang galau. Putuskah?

Aku: Why?

Aku membalasnya.

Dia: Nothing.

Aku: Then why'd you write this? Do you want to talk about it?

Dia: Nope. I'm okay.

Tiba-tiba gadis lain yang bernama Rina ikut mengomentari statusnya.

Rina: C'mon, there is plenty fish in the sea! Breaking up is just a phase!

Dan komentar lainnya kembali bermunculan.

Teman1: Breaking up doesnt mean the world is over. Please, dude.

Dia: Haha, who wants to stay with me?

Dia: I know, bro. Nvm

Teman2: Why you don't answer my call?!

Dia: My phone is dying.

Teman2: Charge your phone then!

Dan komentar pun berhenti. Ternyata ia benar putus dengan pacarnya. Aku terkekeh, inikah pertanda kenapa aku sangat ingin membuka akun Facebookku malam ini? Karena ia baru saja putus dan MUNGKIN ada kesempatanku untuk masuk? Lol

15 minutes is not enough actually

Ia kembali menulis status Facebook. Apa maksudnya?

Aku: What do you mean?

Dia: Nothing.

Aku: ???

Dia: ???

Aku: I'm curious lol

Dia: Curiosity kills the cat

Aku: Lol I'm not going to kill the cat

Dia: That's not what I mean lmao

Aku: I know what you mean, I'm just messing around lol

Aku: You seemed blue

Dia: I prefer black or grey lol

Aku: What is it?

Dia: Nothing for real

Dia: If you only could to love one person till death, would you live when that person is gone?

Aku terdiam cukup lama. Jawaban apa yang ia inginkan?

Aku: No.

Dia: Haha, why is that?

Aku: Well, what's the reason to live then? I mean, if I could love other person it would be good, but I can't so basically, it would torture me. My life is full of misery lol

Dan ia tidak membalas lagi komentarku. Mungkin jawabanku klasik. Tapi, aku tidak tau jawaban apa lagi yang lebih bagus untuk itu. Aku menengok kearah jam dinding yang tergantung di kamar, sudah pukul 1 malam lewat 6 menit. Segera ku logout akun Facebookku dan tidur.
--
Sejak hari itu aku tidak pernah melihat ia online karena ia tidak mengupdate status Facebooknya lagi ataupun membalas komentarku malam itu. Sebuah notifikasi dari Facebook masuk. Hari ini hari ulangtahun pria itu. Segera kubuka profil Facebooknya untuk mengirimkan ucapan selamat ulangtahun dan seseorang bernama Rina sudah terlebih dahulu melakukan hal tersebut. Namun pesannys membuatku tercengang.

Sebuah foto batu nisan dengan nama pria itu dan pesan yang bertuliskan:

Today is your birthday, bro. Happy birthday. It's been two months already. I miss you but I love you.

Tanganku langsung bergetar. Dua bulan. Dua bulan yang lalu ia meninggal. Tepat saat ia tidak membalas komentarku malam itu. Dengan spontan, aku segera mengirim pesan pada pemilik akun Rina.

Aku: Sorry, I saw what you sent to his wall. Is he really died?

Rina: I'm sorry, who are you?

Aku: I'm sorry, I'm just his friend, I commented his status but he never replied, I wonder what happened to him.

Rina: Well, he died two months ago.

Aku: For real? What happened?

Rina: He commited suicide. He was depressed for the past few weeks after breaking up with his girlfriend.

Rina: Ah, you are the last girl who talk to him before he died.

Rina: I'm not making you feel guilty or what.

Rina: I wonder if you could give him a proper answer back then.

Rina: Probably you could save him.

Rina: No offense.

Dengan cepat aku segera logout dari akun Facebookku. Dan ingin rasanya menghapus percakapanku dengan Rina. Sungguh, apa maksudnya mengatakan hal itu?

Penasaran, aku kembali membuka akun Facebookku dan Rina mengirimiku sebuah pesan. Sebuah foto sebenarnya. Sebuah foto yang berisikan sebuah tulisan tangan diatas sebuah kertas yang ditulis dengan spidol merah.

Who could live in the world if the one you love is gone? I have no reason in life.

Sabtu, 01 Juli 2017

Review Kosong: Leap! /Ballerina (2016)



Leap! /Ballerina (2016)
Sutradara: Eric Summer
Pemain: Elle Fanning, Dane DeHaan, Carly Rae Jepsen
Genre: Adventure, Dance, Animation

Dikarenakan skripsi dan deadline wisuda tahun ini, jadinya sudah dua bulan tidak posting tulisan padahal yang mau ditulis banyak haha (alasan klasik).
Waktu untuk membaca buku selain novel yang digunakan untuk skripsi juga terbatas (selain komik online) sehingga saya kembali ke rutinitas lama dengan menonton film untuk mengatasi kejenuhan. Film yang baru saya tonton beberapa saat lalu adalah film animasi tahun 2016 berjudul Leap! atau Ballerina. Saya sudah menonton trailernya tahun lalu dan karena penasaran makanya memutuskan untuk menontonnya.
Felicie (source:google)
Bercerita tentang Felicie, seorang gadis yatim piatu yang memiliki mimpi untuk menjadi seorang ballerina. Bersama dengan sahabatnya Victor, mereka kabur dari panti asuhan tersebut dan pergi ke Paris untuk meraih mimpi mereka. Felicie mendatangi sebuah teater opera dan melihat seorang ballerina sedang menari yang semakin mengukuhkan impiannya, namun ia tertangkap basah oleh sang penjaga yang akan membawanya ke kantor polisi karena dianggap pencuri. Beruntung Odette, petugas kebersihan opera tersebut, menolong Felicie. Felicie bekerja di rumah Nyonya Le Haut untuk membantu pekerjaan Odette di sana. Sang anak majikan, Camille ternyata bercita-cita juga menjadi seorang ballerina. Namun sikapnya yang arogan langsung membuat Felicie naik pitam sehingga 'mencuri' surat penerimaan belajar balet di sebuah opera paling terkenal dan terbaik di Paris.

source: google
Kesan saya, lumayan seru. Saya suka sekali Odette. Meskipun awalnya dia sedikit menyebalkan karena sikapnya yang dingin, tapi dia sangat perhatian dan baik banget sama Felicie. Odette adalah seorang mantan ballerina. Ia bercerita bahwa dulu terluka saat sedang perform dan semenjak itu ia tidak menari lagi. Ia dulu juga sangat terkenal sebagai penari terbaik di jamannya, kata Merante. Odette dan Merante adalah OTP saya di film ini. Sayang, gak diceritain lebih lanjut gimana hubungan mereka sebelum dan sesudah dari kejadian ini.
Odette (source:amazon)
Pertama kali mereka menunjukkan affectionnya saat Felicie ketahuan (ups, spoiler) dan Odette mengakui sebagai wali dari Felicie. Di situ Merante terlihat sedikit terkejut melihat Odette, namun langsung mengancam nyonya Le Haut, kalau ia memecat Odette, Camille tidak akan menjadi muridnya. Kemudian, saat Odette sedang membersihkan panggung sambil sedikit menari, Merante memujinya dengan mengatakan bahkan saat Odette sedang melakukan pekerjaan kotor (menyapu maksudnya,) ia masih terlihat indah. Duh. Waktu mereka sama-sama mengajari Felicie juga, mereka mengatakan hal yang sama. OTP.
uhuk (source: google)
Akhir dari film ini pun menunjukkan mereka terlihat berduaan di belakang panggung. Namun sayang, tidak diceritakan bagaimana kelanjutan mereka berdua--andai, mereka berdua akhirnya menikah dan mengangkat Felicie dan Victor sebagai anak mereka. Eh tapi nanti Felicie gak bisa nikah ya sama si Victor, eh gak tau juga deh (lol).

Score: 3.7/10

Alasan harus nonton ini: banyak pesan moral yang bisa diperoleh dari film ini, contohnya seperti, jangan memaksakan kehendak orangtua pada anak karena anak bisa memilih jalannya sendiri. Salah satu yang paling saya ingat adalah saat Felicie dan Camille ditanya oleh Merante alasan mereka menari. Felicie menjawab dengan lugas kalau menari adalah bagian dari dirinya, sementara Camille bingung harus menjawab apa karena ia menari disuruh oleh ibunya, bukan karena keinginannya sendiri.

Leap! /Ballerina (source: google)

Sabtu, 22 April 2017

Review Kosong: Cintapuccino


Cintapuccino
Penulis: Icha Rahmanti
Genre: Romance, Drama


"Cintapuccino-olahan dari espresso (ekstrak kopinya lebih kuat, sekuat keyakinan yang bikin obsesiku mengkronis, dan perasaan sekarang that I have to do this)"--halaman 56

Saya juga gak tau kesambet apa tiba-tiba ingin membaca chicklit. Ceritanya ada bazaar buku kecil di sebuah Mall dan saya pun membeli chicklit ini. Baru sekitar seminggu kemudian saya baca dan hasilnya, saya terkesima.

Bercerita tentang Rahmi, seorang perempuan berusia 24 tahun yang memiliki obsesi pada seorang cowok bernama Nimo selama 10 tahun. Sebenarnya Rahmi sudah memiliki pasangan, Raka. Tapi ketika ia dipertemukan dengan Nimo kembali, penyakit Nimo kronis yang diidap Rahmi kembali hadir. Nah, ia pun dihadapkan oleh dua pilihan, tetap bersama Raka atau memilih bersama Nimo.

Huwaaaaaaa;;;; saya suka banget tokoh Raka. Dia digambarin sebagai tokoh yang sabar, perfect, tapi idealisnya minta ampun. Tipe-tipe kalem yang kalo cemburu diem aja.

Sedangkan karakter Nimo, sedikit banget digambarinnya sehingga saya jadi kurang bisa menelaah--aslinya, dia itu gimana sih? Saya tau karakter Nimo dari email yang dikirim Rahmi aja ke Raka. Maksudnya kayak, penggambaran karakter Nimo itu masih ngegantung banget. Oke, mungkin karena mbak Icha (sang penulis) ingin kita merasakan apa yang Rahmi rasakan dan pikirkan karena novel ini menggunakan sudut pandang Rahmi.

Tapi jujur aja, saya baca novel ini keingetan sama masa SMP saya loh. Karena saya dulu waktu SMP juga memiliki obsesi seperti yang Rahmi alami. Saya terobsesi oleh senior saya sehingga saya ikut eksul dan OSIS hanya demi bisa bareng dia. Padahal hingga dia lulus, kami ngobrol pun gak pernah. Hahahahahaaa (Y-Y) Tapi, overall saya suka. Gak bertele-tele. Mungkin saya sedikit rada gak suka aja sama Rahmi yang kebanyakan bimbang (lol) dan Raka yang terlalu idealis dan baik hati (saya kzl, Mas Raka!)

Score: 4/5

Alasan harus baca novel ini: Yang pernah terobsesi sama orang, silahkan baca, itung-itung nostalgia.

Senin, 03 April 2017

Review Kosong: Dealova


Dealova
Sutradara: Dian W. Sasmita
Pemain: Jessica Iskandar, Benjamin Joshua, Evan Sanders, Nagita Slavina, Rizki Hanggoro
Genre: Romance, Drama
Berdasarkan novel dengan judul sama karya Dyan Nuranindya


Sebenarnya ini film jaman dahulu banget, waktu saya masih SD tapi entah kenapa saya ingin nonton lagi. Ceritanya sedih. Tentang seorang cewek tomboy bernama Karra yang menyukai cowok judes, Dira. Mereka akhirnya pacaran tapi Dira mengidap kanker otak stadium akhir. Waktu saya pertama kali nonton ini, saya menangis. Apalagi pas Diranya meninggal. Itu bener-bener menyayat hati saya *ups, spoiler*.
Tapi dibandingkan dengan novelnya, well, nangis saya lebih kencang pas baca novelnya (lol). Di novel lebih banyak diceritain kisah Karra, Dira, dan Ibel sehingga chemistry mereka semua masuk. Sedangkan di filmnya? Kosong.

Saya heran, adegan Ibel galau malah panjang banget-_- padahal mending durasinya dipake buat bangun chemistry antara Karra dan Dira karena menurut saya kurang logis aja, ceritanya si Dira murid baru terus ganggu si Karra dan Karranya juga langsung kenal dan care sama dia.

Dan tokoh gak jelas seperti Adji, yang tiba-tiba hadir lagaknya pahlawan menghakimi Dira karena Dira mengganggu Karra. Well, emangnya si Adji ini siapa, hah?
Emang itu kesulitannya mengadaptasi novel menjadi film. Entah karena budget atau durasi yang terbatas, jadi harus banyak dipotong.
Huff, tapi saya suka sih. Kadang suka ngakak sendiri sih lihat aktingnya Benjos yang judes banget dan Jeddar yang tomboy galak gitu.
XD
uhuuuk!!


Score: 3/5

Alasan harus menonton ini: Yang pingin nyicipin film dari chicklit buatan Indonesia.

novelnya nih!Jangan lupa baca yaaa~!