Kamis, 23 November 2017

Review Kosong: Sex And The City

source: google
Judul: Sex And The City (1998-2004, 2008, 2010)
Jumlah episode: 64 episode (6 season dan 2 film)
Sutradara: Michael Patrick King
Pemain: Sarah Jessica Parker, Kim Cattral, Kristin Davis, Chynthia Nixon, Chris Noth
Genre: Romance, Comedy, Drama, Friendship
Berdasarkan novel berjudul sama karangan Candance Brushnell


Pertama kali saya nonton film Sex and the City (SATC) waktu SMP. Waktu itu lagi masa-masanya nakal dengan pergolakan batin yang kuat(?). Awalnya saya kira SATC adalah film porno (I judge from its title lmao). Akhirnya saya tonton dan cuman berhasil setengah jam karena disuruh pulang haha (saya nonton bareng teman). Kemudian bertahun-tahun kemudian, saya tertiba ingin menonton SATC lagi. Saya pun mencari filmnya dan nonton.
hehehe
source:google
15 menit pertama sukses membuat saya banjir air mata.
huhuhuhuhuu;;
source:google
Carrie Bradshaw, wanita berusia 40 tahunan yang membina hubungan putus-nyambung dengan Mr Big akhirnya memutuskan untuk menikahinya. Tetapi pernikahan belum dilangsungkan, Mr Big memilih untuk pergi karena keraguan akibat dua pernikahan yang gagal sebelumnya. Carrie pun berusaha move on dari kejadian tersebut.
source:google
Samantha Jones, seorang PR terkenal yang tidak percaya pada ikatan pernikahan dan cinta berhasil melabuhkan hatinya pada Smith Jerrod. Ia yang merupakan penganut kebebasan harus memusatkan dirinya pada satu orang pria yang makin sibuk mengejar karirnya. Jiwa Samantha pun beradu.
source:google
Miranda Hobbes, pengacara hukum yang memutuskan untuk tinggal di Brooklyn, membangun keluarga kecilnya bersama Steve dan Brady. Pengakuan mengejutkan hadir ketika Steve bilang bahwa ia telah tidur dengan wanita lain.
source:google
Yup, SATC sukses menyajikan permasalahan seputar yang dihadapi oleh seorang wanita kebanyakan. Seperti yang dialami Carrie dan Big, apakah pasangan yang hendak dinikahi ini orang yang tepat?

Gimana kalau ternyata kita salah memilih orang? Gimana kalau ternyata dia berbeda dari apa yang kita kira? Atau permasalahan Samantha, ketika kita mencintai seseorang apakah kita harus merelakan diri kita yang sesungguhnya? Daaan....jika pasangan berbuat kesalahan, bagaimana menyingkapinya?
Karya yang menakjubkaaan menurut saya pribadi. Masalah dan pemecahan masalahnya dapet banget. Saya suka banget sampai suka merekomendasikan film ini ke teman-teman saya di kampus tapi kebanyakan pada mikirnya yang aneh-aneh haha.
source:google
Lanjut, setelah film pertama oke banget. Saya pun nonton film keduanya. Sex and the City 2 (SATC 2). Kalau yang pertama lebih ke arah detik-detik sebelum menikah, yang kedua bercerita tentang setelah menikah.

Ya, Carrie dan Big menikah. Problematika mereka adalah ternyata Big tidak sesempurna yang ia kira. Banyak tingkah laku Big yang belum Carrie ketahui sebelumnya muncul setelah pernikahan dan Carrie tidak terbiasa akan hal itu. Merasa akan ketidakcocokan ini, Carrie pun meminta waktu dua hari setiap minggunya untuk memiliki "me time". Di sisi lain, Big pun merasa perlu memiliki "me time" sendiri.
source:google
Charlotte York yang memiliki dua buah hati, Lily dan Rose, mempekerjakan seorang pengasuh yang malah membuatnya merasa tidak aman karena takut suaminya tergoda. Di sisi lain, setelah lama mengharapkan memiliki buah hati, ia pun berusaha menjadi ibu yang baik. Tapi ternyata gak semudah itu.
source:google
Dan Samantha yang berurusan dengan menopause. Ia pun berupaya agar suplemen yang dikonsumsinya mampu membuatnya tetap 'muda', namun saat dibawa ke Abu Dhabi ternyata suplemen itu dianggap ilegal.
source:google
Memang film yang kedua ini tidak sebagus yang pertama karena tema yang diangkat sebenarnya cukup oke, tapi dikemas dengan kurang menarik. Jadi masalahnya cenderung campur aduk dan kurang ngena buat saya.

Dari situ saya mulai penasaran dengan serial televisinya yang mulai tahun 1998 hingga 2004. Ada sebanyak 6 seasons dengan sekitar 12 episode di setiap seasonnya. Episode pertama season satu memperkenalkan para tokohnya, Carrie, Miranda, Charlotte, dan Samantha. Empat orang sahabat di usia 30-an dan masih single. Kecuali Charlotte, mereka bertiga sama sekali tidak memikirkan soal hubungan atau pernikahan. Kemudian setiap episodenya pun mulai memunculkan beragam macam permasalahan yang umumnya terjadi pada wanita. Pokoknya seru banget. Gak salah kalau ada orang yang bilang kalau SATC adalah kitab suci para wanita. Lupakan soal seks, ini tentang relationship among friends, family, lovers, and society.
goals!
source:google
Saya dapat banyak sekali pencerahan dari SATC. Favorit saya? Samantha Jones. Ia benar-benar menggambarkan sosok wanita independent yang gak ingin dirinya--atau wanita berada di bawah kaum pria. Saya ingat betul sebuah adegan ketika ia melamar di sebuah hotel untuk jabatan Public Relation dan si empunya hotel itu merendahkan Samantha karena jenis kelaminnya, bahwa ia takkan bisa melakukan tugasnya dengan baik karena ia seorang wanita. Di situ, Samantha yang biasanya kuat dan mandiri, tiba-tiba merasa lemah dan menangis (seorang Samantha Jones menangis!!). Hal ini merupakan sebuah tamparan bagi masyarakat dan orang-orang yang memandang rendah seseorang karena jenis kelaminnya. Ini bukan lagi zaman pria berada di atas wanita, tapi pria dan wanita memiliki kedudukan yang sejajar. Go, feminist!
source:google
Satu pelajaran lagi yang didapat dari Samantha Jones yaitu betapa pun mencintai seseorang jangan sampai kehilangan jati dirimu.
(*itu pesan yang didapat dari film SATC pertama btw,)

Rating:
SATC 1: 4/5

SATC 2: 3.4/5
Serial TV: 4.7/5


(novelnya belum baca, mungkin nanti akan update kalau udah baca novelnya *wink)
source:google

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
UPDATED:
(12/04) Ada sebuah wacana di beberapa situs luar negeri tentang adanya kemungkinan SATC 3. Namun sayangnya, Kim Cattrall pemeran Samantha Jones menolak keikutsertaannya dalam proyek yang disebut-sebut sebagai akhir dari SATC. Banyak pihak menyayangkan keputusan Kim ini namun banyak pula yang mendukung Kim karena mengingat buruknya film SATC 2. Beberapa aktris lainnya seperti Kristin Davis dan Willie Garson juga merasa kecewa namun tetap menunjukkan sikap positif dari tidak akan adanya SATC 3 ini.
Dan saya jujur aja merasa kecewa dengan keputusan Kim ini. Ada beberapa fans yang menyarankan agar pemeran Samantha diganti atau 'dimatikan', tetap SATC gak akan lengkap rasanya kalau gak ada Samantha. Beberapa fans juga berspekulasi bahwa alasan Kim tidak ingin ikut proyek SATC 3 dikarenakan ingin lebih dikenal dengan karya terbarunya ketimbang kembali menjadi Samantha Jones yang membuatnya dikenal seluruh dunia. Tapi tetap aja, hal itu membuat kecewa para fans SATC termasuk saya T-T
Semoga cuman gimmick haha (meskipun mustahil).

Rabu, 11 Oktober 2017

Review Kosong: Aeon Mall Jakarta Garden City

Ceritanya udah lama banget pengen ke Aeon BSD karena kata temen, tempatnya Jepang banget haha. Tapi karena jarak yang lumayan jauh, niat tersebut urung. Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengajak saya untuk pergi ke Aeon BSD namun berakhir di Kota Kasablanka (jauh cyin...). 
hehe
source: google
Kemudian terdengarlah kabar bahwa Aeon Mall buka di Jakarta Garden City dan saya pun meluncur ke sana.
RUUUN!
source: google
Jaraknya dari rumah saya kebetulan hanya setengah jam. Area Jakarta Garden City juga masih sepi banget. Berasa ada di daerah antah berantah (lah).
Parkir motor AEON JGC
source: pribadi
Parkir Aeon Mall JGC ini menurut saya luas dan tertutupi juga, jadi kalau hujan aman.
Pintu masuknya ada banyak. Saat keluar saya sempat nyasar (haha). Dan begitu masuk, oke interiornya keren.
lobby
source: pribadi
Tempatnya terasa begitu luang--apa karena masih sepi ya? Tapi enak sih nyaman. Ada banyak kursi yang disediakan di setiap lantai hingga kita gak usah pusing nyari tempat duduk atau mampir ke tempat makan kalau pegal.
Bangku-bangku
source: pribadi
Dan yang paling seru dari Aeon Mall ini adalah tentu aja makanannya yang berbau Jepang. Yup, sushi hadir lumayan lengkap di sini. Ada ramen, takoyaki, teppanyaki, tempura, komplit deh pokoknya.
Saya gak apal nama sushinya apa aja, pokoknya raw fish
source: pribadi
Saya sempat nyicipin sushinya. Harganya terjangkau banget. Mulai dari Rp 3.000-an aja. Rasanya juga enak menurut lidah amatir saya (lol). Mostly sushinya raw fish, jadi kalau gak demen ya coba pilih menu yang lain ya. Oh ya, kecap asin, wasabi, dan mayones tersedia juga di sini tapi berbayar.

Selanjutnya, tempat yang wajib dikunjungi setelah makan adalah...YUP! Game center! Game center yang ada di Aeon Mall JGC ini ada banyak, tapi kesukaan saya tetap Funworld. Variansi mainannya banyak, ada mobil balap, basket, Pump It Up, sampai Danzbase. Yang saya suka lagi dari Funworld di sini, harganya masih manusiawi (haha). Sekali gesek untuk PIU dan DZ hanya sekitar Rp 4.900 aja, beda sama di tempat lain. Meskipun mesin PIU-nya masih 2015, bukan yang terbaru 2017.

(saya lupa foto Funworldnya karena emang gak ada niat buat ngepost ini haha)

Andalan Aeon Mall JGC ini adalah Ferris Wheel-nya yang ada di lantai paling atas. Sayangnya, saya gak berkesempatan buat naik karena menurut saya sedikit rada mahal yaitu Rp 50.000. Yah, mungkin next time aja (haha). Area paling atas ini juga asik untuk foto-foto karena tempatnya cozy banget aaakkkk!
Lantai paling atas
source: pribadi
Pokoknya menurut saya, Aeon Mall JGC ini seru banget. Asik buat hangout sama teman dan keluarga. Harga yang ditawarkan juga manusiawi banget dan cocok untuk semua golongan. Sayangnya, akses ke sini sedikit rada sulit karena gak ada angkutan umum. Jadi mau gak mau ya mesti naik kendaraan pribadi, taksi atau ojek online.

Selain itu, gak tau kenapa sinyal provider saya hilang-hilangan di sini-_- jadi susah (btw saya pakai three).

Buat yang suka sushi dan makanan Jepang, tempatnya recommended bangetlaaah!

Rating: 4/5
maapkeun muka saya numpang eksis hehew
source: pribadi

Minggu, 17 September 2017

Review Kosong: Here We Are

source: google
Judul: Here We Are
Pengarang: Obata Yuuki
Genre: Romance, Drama, Scho-Life
Status: Completed (16 buku)

Sebenarnya ini komik udah terbilang lama,sekitar 10 tahunan yang lalu. Saya tanpa sengaja tertarik membacanya karena iklan tentang komik ini di hampir setiap komik yang saya beli. Saking keselnya sampe mikir, "emang nih komik sekeren apa sih iklannya nongol mulu?!" lol

Akhirnya saya pun mencoba nyari di gramedia, tapi gak ketemu karena itu komik lama. Dan di suatu kesempatan, saya pun menemukan jilid awal komik itu di toko gunung agung dan membelinya langsung 3buku (sebelum susah menemukannya lagi). Ok, this manga is really good.
soure: google
Jilid 1-3 ini bercerita tentang Nanami Takahashi, cewek yang baru aja masuk SMU dan bertemu dengan Motoharu Yano. Awalnya Takahashi benci banget sama Yano karena Yano itu katanya sempurna (ganteng, populer, pinter, jago olahraga, bahkan ada rumor tentang 2/3 anak perempuan di sekolah bakal suka sama Yano dalam waktu 3 tahun) dan karena sengaja salah memberitahu Takahashi nama temannya sehingga ia ditunjuk jadi ketua kelas. Namun Takahashi menangkap kalau Yano aslinya gak sesempurna itu. Ia pun berusaha dekat sama Yano dan akhirnya suka. Meskipun Yano menerima cintanya Takahashi, ternyata ia masih terjebak dengan mantan pacarnya yang sudah meninggal, Nana Yamamoto, kakak dari teman sekelas mereka, Yuri Yamamoto. Terlebih, ada sesuatu yang disembunyikan Yano dengan hubungannya bersama Yamamoto.
source: google
Dan begitu aja. Saya sempat stres karena gak berhasil menemukan kelanjutannya dan penasaran banget. Waktu itu saya belum mengenal komik online dan gak tertarik juga untuk membacanya secara online. Jadilah, setelah 3 tahun lebih berlalu, saya pun menemukan jilid selanjutnya. Yang kemudian berhenti di nomor 12 karena sang pengarang, Obata Yuuki harus vakum sementara (selama tiga tahun tepatnya) dikarenakan sakit. Akhirnya Here We Are pun tamat di jilid 16 setelah perjuangan saya selama 8 tahun lolol
source: google
Kesan saya, komik ini sangat berbeda dari komik-komik yang pernah saya baca sebelumnya. Pemilihan kata-katanya begitu indah meskipun alur ceritanya seperti komik perempuan pada umumnya: baru masuk SMU >> ketemu temen sekelas keren >> benci >> cinta >> gak bisa moveon dari mantan >> move on. Tapi yang bikin beda adalah konflik-konfliknya yang mampu bikin pembaca terenyuh. Saya gak bisa gak nangis kalo baca komik ini (serius).
source: google
Cinta Lama Belum Kelar (CLBK) adalah tema besar komik Here We Are. Bagaimana tidak, kebanyakan dari tokoh-tokoh ini belum bisa move on dari masa lalunya. Sebut saja Yano yang belum bisa move on dari Nana, mantannya yang sudah meninggal, kemudian Yuri yang tidak bisa move on dari Yano meskipun sebenarnya mereka gak ada hubungan apa-apa, ada lagi ibu Yano yang gak bisa move on dari ayah Yano, serta Takahashi yang tidak bisa move on dari Yano padahal Yano meninggalkannya dan ada Takeuchi di sisinya. Singkatnya, ya, semua tentang clbk (lol).

Membaca komik ini sama aja sedang mempelajari sebuah kenangan dan masa lalu. Kebanyakan kenangan adalah sebuah ingatan yang termodifikasi, entah dikurangi atau ditambahkan, sedangkan masa lalu adalah hal yang terjadi di masa lampau dan yang terbaik adalah terus menatap ke depan. Tokoh Motoharu Yano banyak memberi saya inspirasi tentang menjadi sosok dewasa yang bisa diandalkan, tapi sebenarnya kita perlu juga mengandalkan orang lain.

"Jangan kalah sama masa lalu, kita buat masa sekarang"-Motoharu Yano, Here We Are Vol.3

Pokoknya, Obata Yuuki-sensei berhasil bikin saya nangis dan takjub pada karyanya. Btw ini karya Obata Yuuki pertama yang saya baca. Di Indonesia, karyanya beliau yang diterbitin baru dua, Here We Are dan Triangle Romance (nanti saya bikin reviewnya) . Saya lagi nungguin karya beliau untuk segera diterbitin lagi di Indonesia (meskipun harga komik sekarang mahal tapi kualitasnya biasa aja T-T).

saya mewek T-T
source: google
Saya sangat merekomendasikan komik ini pada orang yang memang suka sastra meskipun ini adalah sebuah komik Jepang (jangan ngeremehin komik!). Kenapa, karena kata-kata di komik ini bermakna dan terkadang sulit dimengerti, jadi mesti ditelaah dulu. Saya pernah merekomendasikan komik ini pada beberapa teman yang lumayan suka baca komik, terus baru baca 2 jilid langsung dipulangin lagi karena gak ngerti. Pemilihan kata-kata di komik ini begitu sulit dimengerti dan banyak yang tersirat, kata mereka. Lol

Rating: 5/5
OTP da best
source: google

Selasa, 08 Agustus 2017

Review Kosong: Mystic Messenger


Mystic Messenger
Developer: Cheritz
Free for some parts
Available on Android and iOS

Siapa yang gak mengenal game fenomenal Mystic Messenger, terlebih para otaku otome atau orang-orang yang mengaku dirinya adalah otaku. Mystic Messenger adalah sebuah game dating simulasi yang dikembangkan oleh Cheritz sejak 2016 lalu dan seketika langsung booming. Kenapa, karena game dating ini menampilkan format yang berbeda dari game dating lainnya. Format yang ditampilkan adalah layaknya chatting pada aplikasi messenger dilengkapi dengan panggilan telepon!

Hingga saat ini Mystic Messenger menyajikan lima rute yang bisa dipilih, yaitu Yoosung, Jaehee, Zen, Seven, dan Jumin. Rencananya, pada bulan Agustus ini mereka akan mengeluarkan rute baru, yaitu V.

Mystic Messenger sendiri bercerita tentang MC (Main Character, yaitu KAMU) yang dihubungi seseorang bernama Unknown dan ia minta tolong pada kamu untuk mengantarkan handphone yang ia temukan ke sebuah alamat. Kalau kamu setuju mengantarkannya, maka kamu akan memasuki sebuah apartemen yang kemudian otomatis mengkoneksikan handphone yang kamu temukan tadi dengan sebuah aplikasi chatting bernama RFA --Rika Foundation Association. Kamu pun masuk ke grup chatting tersebut dan mulai berkenalan dengan para member RFA yang namanya sudah saya sebutkan tadi di atas. Tugas kamu selanjutnya mengadakan sebuah pesta charity yang biasanya diadakan oleh member RFA bernama Rika yang diberitakan sudah meninggal.

Menariknya lagi, berbeda dengan game dating lainnya yang membuat kamu memilih rute di awal game, di Mystic Messenger kamu sendiri yang harus berjuang mendapatkan hati tokoh yang kamu sukai agar rute mereka terbuka. Btw, ada dua pilihan cerita yang bisa dipilih sebelum prolog, yaitu Casual story yang berisi rute Yoosung, Jaehee, dan Zen, serta Deep story yang berisi Seven dan Jumin. Untuk Casual story itu free, sedangkan untuk Deep story diharuskan membayar 80Hourglass.

Game ini juga menyajikan banyak ending di setiap rutenya, sampai saat ini sih saya selalu dapat Good Ending terus hehe.

Untuk grafik, oke banget. CGnya kerenlah. Sedikit ada perubahan tampilan sih pada game ini, yang awalnya berwarna kuning sekarang berubah menjadi warna tosca.

Dari alur ceritanya, keren. Jangan berharap ada cerita atau karakter menyek-menyek yang suka ada di game dating pada umumnya, karena gak akan ada hal seperti itu di Mystic Messenger. Kalau saya perhatikan (ciyelah), malahan alur cerita Mystic Messenger sedikit kelam. Kenapa, (SPOILER ALERT) karena Rika sebenarnya belum meninggal. Hubungan Rika dan V sejak awal sudah tidak sehat, mereka memandang satu sama lain sebagai sosok yang sempurna dan ketika ada yang tidak sesuai dengan kesempurnaan mereka, mereka jadi kehilangan keseimbangannya hingga akhirnya saling melukai. Btw, ini teori saya aja sih.

Karakter-karakternya, hmm, suka. Kelima tokoh Mystic Messenger digambarkan dengan cukup unik. Seperti Yoosung yang kecanduan main game online LOLOL, Zen yang narsis banget, Jaehee yang fansnya Zen dan sekretarisnya Jumin, lalu Jumin yang lebih tertarik pada kucing peliharaannya ketimbang wanita, serta Seven si hacker kocak namun serba rahasia. Kadang saya suka merasa kayaknya ada yang salah dengan tokoh-tokoh ini tapi ah sudahlah, saya tidak mau berkonspirasi dengan teori-teori omongkosong saya lol.

BGMnya, oke. Suara karakternya juga oke. Saya sih paling suka suaranya Zen sama Seven, soalnya lucu aja suara mereka. Apalagi kalau Zen udah mulai gak jelas, suaranya gemes banget haha.

Minusnya dari game ini adalah money oriented karena semuanya serba mahal. Saya mengerti kreator game ini butuh sesuatu untuk memenuhi kebutuhan mereka, tapi tidak semahal ini juga. Contohnya, saat kita menyimpan game tersebut pada slot yang disediakan dan ingin memainkannya lagi dari slot tersebut, kita diharuskan membayar 5Hourglass. Sedangkan untuk mendapatkan Hourglass adalah dengan membelinya. Lalu, untuk membuka Deep route juga membayar 80Hourglass. Yang baru-baru ini mengagetkan saya adalah, saat After Ending kita diharuskan membayar 20Hourglass untuk membukanya, dan kemudian Secret Ending yang terdiri dari 8 Episode, juga harus membayar 10Hourglass jika ingin dibuka setiap episodenya. I'm not that rich.

Yang bikin saya potek kuadrat adalah official merchandisenya super mahal T-T Padahal saya minat beli tapi harganya bikin saya nangis apalagi belum termasuk ongkir kan T-T Sekarang sih tinggal tunggu keajaiban ajalah saya bisa beli lol

Rating: 4.8/5
Yoosung, Zen, Seven, Jumin, Jaehee

-------------------------------------------------------------------------------
UPDATE!! (17/09/17)
Rute V udah rilis tanggal 9 September kemarin, bertepatan dengan hari ulangtahunnya. Dan untuk mendapatkan rute V harus membayar 300HG (nangis dayak T-T). Rutenya sama aja sih, ada 11 hari dan punya 7 ending berbeda. Tapi menurut saya kemahalan. (Imma poor player, you know T-T).
penampakan MM yang baru
source: cheritz.tumblr



----------------------------------------------------
UPDATE!!! (05/17)
Beberapa saat lalu Cheritz juga meluncurkan rute baru, semacam alternate universe Mystic Messenger yang melibatkan seorang pria bernama Ray. Tenang, Ray adalah tokoh yang menggunakan visual dari Saeran. Saya belum main rute ini sih, tapi kata teman yang main, rutenya seru. Tapi ya hati saya masih di Jumin lol.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Review Kosong: Vampire Academy


Vampire Academy
Sutradara: Mark Waters
Pemain: Zoe Dutch, Lucy Fry, Danila Kozlovsky
Genre: Paranormal, Romance
Berdasarkan novel berjudul sama karangan Richelle Mead

Banyak yang belum mengenal Vampire Academy atau sudah mengenalnya tapi terlambat seperti saya, rasanya sangat sayang hal itu terjadi. If only I know them sooner Y-Y

Saya tau film tersebut tanpa kesengajaan. Waktu itu saya sedang minta film pada seorang teman dan ia memberikan film Vampire Academy. Ketika saya tanya gimana filmnya, ia bilang bagus. Akhirnya saya langsung menonton saat ada kesempatan dan oke, saya jatuh cinta.

Bercerita tentang Rose Hathaway, dhampir (setengah vampir, setengah manusia) yang menjaga Lisa Dragomir, moroi (vampir darah murni). Mereka kabur dari perguruan St Vladimir dan akhirnya berhasil ditemukan oleh Dmitri Belikov, dhampir juga, yang membawa mereka kembali ke sekolah tersebut. Rose dan Lisa pun harus kembali menikmati masa sekolah mereka, namun Lisa mendapat teror. Mereka pun berusaha menemukan siapa pelaku teror tersebut.

Overall, saya suka banget. Meskipun beberapa scene terasa janggal, tapi saya tetap suka. Seperti contohnya saat si Mia gak jelas ngebully Lisa. Kurang penjelasan siapa Mia dan kenapa dia benci banget sama Lisa. Otp banget Dmitri sama Rose meskipun akting Dmitri kalau boleh saya bilang, kaku banget. Apa karena sifatnya Dmitri emang begitu? Daaan...akting Zoe Dutch sebagai Rose gak tau kenapa mengingatkan saya dengan aktingnya Ellen Peige di Juno. Penggambaran karakternya mirip banget hehew. Tapi pokoknya saya tetap suka.

Kemudian ternyata, Vampire Academy adaptasi dari novel juga berjudul sama. Karena akhir filmnya menggantung dan entahlah, akan ada lanjutannya atau tidak, saya pun mencari novelnya yang terdiri dari lima buku.

Ceritanya gak jauh berbeda. Masih tentang Rose dan Lisa yang kabur dari sekolah dan ditemukan oleh Dmitri. Tapi kejanggalan yang saya sebutkan di atas, semuanya terungkap di novel. Yah, pokoknya novelnya lebih complex dan membuat saya ketagihan membacanya hingga akhir sampai ke spin-offnya juga. Haha. Itu novel series pertama bahasa Inggris yang saya baca hingga akhir ke spin-offnya.

Dan yang disayangkan, gak akan ada film keduanya. Padahal semua penasaran dengan Adrian. Saya juga baru tau, ternyata para fans VA pernah membuat penggalangan dana demi terwujudnya film kedua (film pertama dianggap jelek dan pemasukkannya kurang bagus, sehingga sangat dipertimbangkan untuk film keduanya). Tapi sayangnya, dana yang terkumpul kurang jadi film kedua batal. Huhuhu.

Memang film Vampire Academy kurang bagus, tapi at least mereka tidak benar-benar merombak ceritanya dan masih tetap satu jalur dengan novelnya (kecuali scene akhir, saat menunjukkan strigoi--vampir jahat yang suka minum darah hingga korbannya mati, berkumpul di dekat St Vladimir, well, itu terjadi di buku ketiga *spoiler*).

Rating film: 3.1/5
Rating novel: 4.2/5

Selasa, 01 Agustus 2017

Review Kosong: Confessions of Shopaholic

Confessions of Shopaholic
Sutradara: P.J. Hogan
Pemain: Isla Fisher, Hugh Dancy
Genre: Romance, Comedy
Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Sophie Kinsella

Saya tertarik menonton filmnya karena teman kuliah sangat menyukai karakter Rebecca Bloomwood yang diperankan oleh Isla Fisher. Butuh waktu sekitar sebulan kemudian untuk mengumpulkan niat menonton film tersebut. Dan saya akui, saya cukup menyukainya.

Ceritanya tentang Rebecca Bloomwood, seorang reporter majalah perkebunan yang gila belanja hingga tagihan kartu kreditnya melebihi gaji yang ia peroleh. Suatu hari, perusahaan tempatnya kerja gulung tikar dan kebetulan, ia diterima bekerja di koran finansial Successful Savings. Tulisannya yang mampu menerjemahkan bahasa finansial ke bahasa yang lebih mudah dimengerti orang banyak, membuatnya dikenal sebagai Gadis dengan selendang hijau, yang waktu ia kenakan saat interview dengan Luke Brandon, redaktur Successful Savings. Namun, ia masih memiliki masalah dengan hutang kartu kreditnya.

Karakter Rebecca Bloomwood benar-benar unik, dia termasuk orang yang impulsif. Agar CV-nya terlihat bagus, ia menulis kalau ia lancar berbahasa Finlandia. Padahal ia sama sekali gak tau, alasannya "Siapa orang yang ngomong bahasa Finlandia?" lol (jangan ditiru ya).

Dan lagi, ternyata Confessions of Shopaholic ada novelnya!! Dan seperti film adaptation based on novel lainnya, film dan novelnya beda banget.

Di novel, tentang Rebecca Bloomwood, reporter majalah finansial Successful Savings yang gila belanja. Semua bermula ketika ia menerima tagihan kartu kreditnya, berniat membayarnya, tapi gak pernah dibayar malah terus-terusan belanja. Ia tertarik dengan Luke Brandon, PR Brandon Communications yang sering memberikan sinyal yang "salah" padanya. Dan masalah hutang kian membelit.

Topiknya memang masih sama, seputar Rebecca Bloomwood si gila belanja dan tagihan kartu kreditnya. Namun, perbedaan mencolok dari film dan novelnya sangat terasa kuat hingga saya tidak merasa heran kalau filmnya mendapat rating yang kurang bagus. Ketimbang novelnya yang saya rasa (sepertinya) lebih original, filmnya malah terasa seperti film The Devil Wears Prada versi gila belanja.

Kenapa, karena di film Rebecca ingin bekerja di majalah fashion yang satu grup dengan Successful Savings sehingga ia bisa dekat dengan brand baju papan atas. Sementara di novel, Rebecca ingin pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi sehingga ia bisa membayar atau tidak mengkhawatirkan tagihan-tagihannya.

Walau saya akui, Isla Fisher dan Hugh Dancy memainkan dengan menggemaskan perannya di film sebagai Rebecca dan Luke, tapi tetap saja saya merasa kecewa bahwa filmnya sangat jauh berbeda dengan yang ada di novel. Bagian apa yang beda, semuanya kecuali nama karakter, pekerjaan Rebecca, gila belanjanya Rebecca, dan tagihan kartu kredit.

Kalau boleh saya bilang untuk film adaptasi dari novel, ini sangat buruk meskipun filmnya sendiri lumayan bagus. Untuk novelnya, saya sangat menyukainya. Penggunaan sudut pandang orang pertama yaitu Rebecca sangat bagus dan menjiwai seakan saya adalah Rebecca lol.

Rating film: 3.2/5
Rating novel: 4/5